Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti P1 Kelas 8 Tema Peradaban Islam pada Masa Abbasiyah (750–1258 M)

 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI

IDENTITAS

Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam

Kelas / Fase

8 (Delapan)  / Fase D

Elemen Mapel

Sejarah Peradaban Islam

Pertemuan Ke

1 (Satu)

Guru Pengampu

Achmad Rifki, S.Ag

Waktu Pembelajaran

Senin, Rabu, Kamis dan Jum’at / 27, 28, 29 Oktober 2025 (Sesuai Jadwal)

CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)

Elemen Mapel

Capaian Pembelajaran

Aqidah

Pada akhir fase ini, peserta didik mampu:

Dapat menjelaskan Mempelajari Sejarah berdirinya Masa Keemasan Islam Era Daulah Abbasiyah (750-1258 M)

TUJUAN PEMBELAJARAN

Melalui pemahaman dan penyampaian materi melalui blog ini sebagai bahan literasi pendukung, peserta didik dapat membaca dan mengetahui makna yang terkandung dalam Ibadah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama  dengan baik serta mempresentasikan maknanya di depan kelas menggunakan PPT atau video/mind map atau karya lain sesuai dengan diferensiasi gaya belajar siswa.

Assalamu'alaikum Wa Rohmatullahi .Wa Barokatuh.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita memasuki materi hari ini, mari kita  ingat lagi tentang materi Sebelumnya yakni Ibadah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama Melalui Shalat Gerhana, Istisqa, dan Jenazah

MATERI



Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah hingga Keruntuhannya

Bani Abbasiyah adalah dinasti penting dalam sejarah peradaban Islam. Kekhalifahan Bani Abbasiyah berdiri setelah runtuhnya Bani Umayyah.

Sejarah berdirinya Bani Abbasiyah tercatat dalam sejumlah literatur Islam. Pemerintahan Bani Abbasiyah dinisbatkan kepada paman Rasulullah SAW yang bernama Abbas bin Abdil Muththalib, sebagaimana dijelaskan dalam buku Sejarah Dakwah karya Samsul Munir Amin

Berdirinya Bani Abbasiyah pada Tahun 750 M

Bani Abbasiyah berdiri pada tahun 132 H atau bertepatan pada tahun 750 M. Menurut buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Abu Achmadi dan Sungarso, pendiri dan khalifah pertama dinasti ini adalah Abu Abbas As-Saffah.

Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung mulai dari tahun 132 H/750 M sampai tahun 656 H/1258 M. Dinasti ini didirikan dan dipimpin oleh keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW. Oleh karena itu disebut dengan Dinasti Abbasiyah.

Terdapat tiga faktor penting yang menyebabkan berdirinya Dinasti Bani Abbasiyah ini, yaitu:

·        Faktor berdirinya Bani Abbasiyah yang pertama adalah karena merasa lebih berhak daripada Bani Umayyah atas kekhalifahan Islam. Apalagi Bani Hasyim yang secara nasab keturunan lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW.

·        Faktor kedua adalah karena sistem pemerintahan Dinasti Umayyah makin menyimpang jauh dari nilai-nilai agama Islam.

·        Faktor yang terakhir adalah karena Bani Abbasiyah merupakan orang-orang yang tersingkir dari kekuasaan Dinasti Umayyah sehingga mereka melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang berkuasa.

Penggulingan Dinasti Umayyah oleh Bani Abbasiyah

Sebagaimana disebutkan di atas, orang-orang Bani Abbasiyah melakukan pemberontakan kepada Bani Umayyah yang saat itu memimpin dengan tidak baik.

Gerakan pemberontakan ini dipimpin oleh keturunan paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abdullah, dan Muhammad bin Ali. Mereka berhasil membangun jaringan oposisi yang cukup luas dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Akhirnya, dalam pertempuran Karbala, dinasti dari Bani Abbasiyah yang dipimpin oleh Kahtaba berhasil meraih kemenangan dengan mengalahkan gubernur Dinasti Umayyah, Yazid. Dinasti Abbasiyah berhasil menguasai Kufah.

Pada tahun 794 M, Abu Ayun dari Bani Abbasiyah berhasil melancarkan usaha terakhirnya untuk menggulingkan pemerintahan Dinasti Umayyah. Ia mengerahkan 120.000 pasukan menuju Zab Hulu atau Zab Besar. Sehingga pertempuran ini dikenal dengan Perang Az-Zabb.

Akhirnya, Dinasti Umayyah benar-benar sudah dikalahkan. Damaskus pun jatuh ke tangan Bani Abbasiyah. Kemudian, Abbas As-Saffah dibaiat sebagai khalifah di Masjid Kufah pada tahun 750 M.

Masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung selama lima abad, tepatnya 508 tahun. Selama pemerintahan ini berdiri, kekuasaan dibagi atas lima periode.

Pola pemerintahan pada dinasti ini berbeda-beda, sesuai dengan perubahan politik yang mempengaruhinya. Misalnya dari Persia, Turki, Buwaih, dan Seljuk.

Namun, pada periode kelima, kekuasaan Dinasti Abbasiyah tidak lagi dipengaruhi bangsa manapun.

Lima Periode Dinasti Bani Abbasiyah

1. Periode Pertama

Periode pertama Dinasti Abbasiyah berlangsung dari tahun 132-232 H atau 750-847 M. Mengutip dari buku Sejarah Peradaban Islam karya Suyuthi Pulungan, khalifah yang memimpin dinasti itu mulai dari Abu Abbas As-Saffah sampai Abu Al-Fadl Ja'far Al-Mutawakkil.

Kekuasaan pada periode pertama berada pada khalifah yang memimpin tentara untuk berperang. Sehingga pada saat inilah merupakan masa kejayaan Bani Abbasiyah. Periode ini disebut sebagai periode pengaruh Persia pertama.

2. Periode Kedua

Periode Bani Abbasiyah kedua berlangsung pada tahun 232-590 H atau 847-1184 M, yaitu dari khalifah Abu Ja'far Muhammad Al-Muntasir sampai Abu Al-Abbas Ahmad Nasir.

Periode ini diwarnai corak politik Turki, Bani Buwaih, dan Bani Saljuk. Periode kedua Dinasti Abbasiyah ini disebut periode pengaruh Turki pertama.

3. Periode Ketiga

Periode ketiga Bani Abbasiyah berlangsung pada tahun 590-656 H. Pada masa ini, kekuasaan kembali ke tangan khalifah, tetapi terbatas hanya daerah Baghdad dan sekitarnya.

Oleh sebab itu, periode ini secara umum bisa dikatakan lemah dan tidak dapat melawan kehendak jenderal Turki.

4. Periode Keempat

Periode keempat Bani Abbasiyah ditandai dengan pengaruh Bani Saljuk yang dipimpin oleh dua belas orang khalifah. Dalam periode ini, terjadi dua peristiwa besar umat Islam, yakni Perang Salib dan penyerangan bangsa Mongol ke Baghdad.

5. Periode Kelima

Pada periode kelima Bani Abbasiyah sudah mengalami banyak kemunduran. Terlebih lagi banyak serangan dari luar, seperti Perang Salib dan penyerangan Bangsa Mongol. Kemudian, daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan juga banyak yang memerdekakan diri.

Akhirnya, Dinasti Bani Abbasiyah benar-benar hancur pada tahun 1258 M di bawah kepemimpinan Abu Ahmad Abdullah Al-Mu'tashim Billah.

Ada perbedaan pendapat terkait periodisasi Bani Abbasiyah. Pendapat lain membagi dinasti ini dalam empat periode. Periode pertama (750-847 M) dipimpin 9 khalifah, periode kedua (847-945 M) ada 13 khalifah, periode ketiga (945-1055 M) dipimpin 5 orang khalifah, dan periode keempat (1055-1258 M) dipimpin 12 khalifah.

EVALUASI

1.     Siswa dan guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.

2.     Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan perbaikan.

3.     Menginformasikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.

4.     Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

KESIMPULAN

Bagaimana anak anak, pada materi kali ini apakah kalian sudah memahami makna dan mampu memahami tentang badah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama Melalui Shalat Gerhana, Istisqa, dan Jenazah

Baiklah... Berikut kesimpulan materinya : ibadah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama Melalui Shalat Gerhana, Istisqa, dan Jenazah maka  harus mampu berakhlaq dan beraqidah baik dan benar sesuai ajaran islam. Karena keselamatan hidup di masa yang akan datang. Aturannya adalah arah jalan yang lurus.

Tetap semangat  dalam belajar tanpa batas karena islam mengajarakan kepada kita semua BELAJARLAH MULAI DARI BUAIAN HINGGA LIANG LAHAT.

BUKU REFERENSI :

Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti terbitan Kemdikbud Kurikulum Merdeka.

Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti Tiga serangkai Kurikulum merdeka

Kitab Al-Quran Terbitan Kementrian Agama dan referensi lain yang Relevan

Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti P3 Kelas 8 Tema Ibadah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama Melalui Shalat Gerhana, Istisqa, dan Jenazah

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI

IDENTITAS

Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam

Kelas / Fase

8 (Delapan)  / Fase D

Elemen Mapel

Fiqih

Pertemuan Ke

3 (Tiga)

Guru Pengampu

Achmad Rifki, S.Ag

Waktu Pembelajaran

Senin, Selasa, Rabu  / 20, 21, 22 Oktober 2025 (Sesuai Jadwal)

CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)

Elemen Mapel

Capaian Pembelajaran

Aqidah

Pada akhir fase ini, peserta didik mampu:

1.   Dapat menjelaskan pengertian Shalat Istisqa beserta dalilnya

2.   Dapat menjelaskan ketentuan Shalat Istisqa

3.   Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqa

4.   Hikmah Shalat Istisqa

TUJUAN PEMBELAJARAN

Melalui pemahaman dan penyampaian materi melalui blog ini sebagai bahan literasi pendukung, peserta didik dapat membaca dan mengetahui makna yang terkandung dalam Ibadah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama  dengan baik serta mempresentasikan maknanya di depan kelas menggunakan PPT atau video/mind map atau karya lain sesuai dengan diferensiasi gaya belajar siswa.

Assalamu'alaikum Wa Rohmatullahi .Wa Barokatuh.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita memasuki materi hari ini, mari kita  ingat lagi tentang materi Sebelumnya yakni Ibadah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama Melalui Shalat Gerhana, Istisqa, dan Jenazah

MATERI

Pengertian Shalat Istisqa

Shalat istisqa adalah salat sunnah muakkadah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan. Kata "istisqa" sendiri berarti meminta curahan air penghidupan atau thalab al-saqaya dalam bahasa Arab.

Shalat istisqa biasanya dilakukan ketika terjadi kekeringan panjang atau musim kemarau sehingga sumur dan sungai menjadi kering. Shalat ini juga dapat dilakukan untuk keperluan atau hajat tertentu.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui mengenai shalat istisqa:

·        Shalat istisqa sudah dilakukan di zaman Rasulullah SAW.

·        Shalat istisqa dilaksanakan pada siang hari.

·        Shalat istisqa dilakukan di tanah lapang.

·        Shalat istisqa terdiri dari dua rakaat.

·        Shalat istisqa dianjurkan untuk dilakukan ketika kondisinya masih membutuhkan.

·        Setelah menjalankan ibadah salat istisqa, para jemaah wajib membaca doa salat istisqa.

·        Shalat istisqa dapat dikerjakan untuk diri sendiri, untuk satu desa, bahkan untuk desa lain juga boleh

Ketentuan Shalat Istisqa

·        Waktu pelaksanaan: Salat istisqa dilaksanakan pada siang hari, setelah matahari terbit, seperti waktu shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Salat istisqa dapat dikerjakan hingga sore hari, asalkan tidak pada waktu diharamkan mengerjakan salat, yaitu pas matahari di atas kepala dan pas terbenam matahari.

·        Tempat pelaksanaan: Salat istisqa dapat dilakukan di lapangan atau masjid.

Tata cara pelaksanaan:

·        Salat istisqa dilakukan secara berjamaah.

·        Salat istisqa terdiri dari dua rakaat.

·        Pada rakaat pertama, takbir sebanyak tujuh kali, membaca doa iftitah, surah Al-Fatihah, dan surah Al-A'la.

·        Pada rakaat kedua, takbir sebanyak lima kali, membaca surah Al-Fatihah, dan surah Al-Ghasyiyah.

·        Setelah salat, dilanjutkan khutbah dua atau sekali. Khutbah setelah shalat lebih utama.

Hukum Shalat Istisqa

Salat istisqa hukumnya sunnah mu'akkadah atau sangat dianjurkan.

Tujuan: Salat istisqa dilakukan ketika terjadi kekeringan atau musim kemarau berkepanjangan sehingga sumur dan sungai menjadi kering

Syarat Sah Melakukan Shalat Istisqa

Syarat sah melakukan shalat Istisqa adalah:

·        Melakukan shalat Istisqa di tanah lapang yang luas

·        Melakukan shalat Istisqa di luar waktu diharamkan mengerjakan shalat, yaitu saat matahari di atas kepala dan saat matahari terbenam

·        Melaksanakan shalat Istisqa secara berjamaah atau munfarid

Selain itu, sebelum melakukan shalat Istisqa, dianjurkan untuk:

·        Berpuasa selama tiga hari berturut-turut

·        Bertobat dan berbuat baik semampunya, seperti bersedekah

·        Mengumumkan pelaksanaan shalat Istisqa kepada kaum muslim beberapa hari sebelumnya

·        Mengingatkan kaum muslim untuk taat dan berbuat kebajikan

Rukun Shalat Istisqa

·        Rukun-rukun shalat istisqa adalah:

·        Shalat dilakukan secara berjamaah di tanah lapang

·        Shalat terdiri dari dua rakaat

·        Pada rakaat pertama, imam dan makmum melakukan takbir tujuh kali sebelum membaca surat Al-Fatihah

·        Pada rakaat kedua, imam dan makmum melakukan takbir lima kali sebelum membaca surat Al-Fatihah

·        Setelah shalat, imam menyampaikan khutbah

·        Khutbah terdiri dari dua khutbah yang disampaikan khatib dengan cara berdiri dan sekali duduk di antara kedua khutbah

Tata cara khutbah dalam shalat istisqa sama dengan yang dilakukan pada shalat id, yaitu:

·        Membaca takbir 9 kali pada khutbah pertama dan takbir 7 kali pada khutbah kedua

·        Khatib dianjurkan mengajak jemaah untuk bertobat dan meminta ampun atas segala dosa

·        Setiap mengakhiri khutbah, khatib disunnahkan membaca doa

·        Shalat istisqa adalah shalat yang dilakukan untuk meminta hujan. Shalat ini disunnahkan dilakukan saat musim kemarau

Hikmah Shalat Istisqa

·        Sebagai bentuk ikhtiar kepada Allah SWT

·        Membuka pintu rahmat dan karunia Allah SWT

·        Menjadikan muslim sebagai hamba Allah yang mampu melakukan pertaubatan

·        Mengajarkan untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT dan tidak meminta kepada selain-Nya

Shalat istisqa adalah salat sunnah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan. Kata istisqa artinya meminta air, dengan asal katanya yakni saqaa.

Shalat istisqa dapat dikerjakan sendiri-sendiri (munfarid) maupun secara berjamaah. Sholat ini dapat dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan berjamaah di masjid atau di tanah lapang.

EVALUASI

1.     Siswa dan guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.

2.     Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan perbaikan.

3.     Menginformasikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.

4.     Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

KESIMPULAN

Bagaimana anak anak, pada materi kali ini apakah kalian sudah memahami makna dan mampu memahami tentang badah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama Melalui Shalat Gerhana, Istisqa, dan Jenazah

Baiklah... Berikut kesimpulan materinya : ibadah dengan Disiplin dan Penuh Harap Kepada Allah SWT serta Peduli terhadap Sesama Melalui Shalat Gerhana, Istisqa, dan Jenazah maka  harus mampu berakhlaq dan beraqidah baik dan benar sesuai ajaran islam. Karena keselamatan hidup di masa yang akan datang. Aturannya adalah arah jalan yang lurus.

Tetap semangat  dalam belajar tanpa batas karena islam mengajarakan kepada kita semua BELAJARLAH MULAI DARI BUAIAN HINGGA LIANG LAHAT.

BUKU REFERENSI :

Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti terbitan Kemdikbud Kurikulum Merdeka.

Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti Tiga serangkai Kurikulum merdeka

Kitab Al-Quran Terbitan Kementrian Agama dan referensi lain yang relevan