Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti P1 Kelas 8 Tema Menjadi Generasi Digital yang Berkarakter

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI

IDENTITAS

Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam

Kelas / Fase

8 (Delapan)  / Fase D

Elemen Mapel

Al-Quran dan Hadits

Pertemuan Ke

1 (Satu)

Guru Pengampu

Achmad Rifki, S.Ag

Waktu Pembelajaran

Senin, Selasa, Rabu / 09,10, 11 Februari 2026 (Sesuai Jadwal)

CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)

Elemen Mapel

Capaian Pembelajaran

Aqidah

Pada akhir fase ini, peserta didik mampu:

·        Menjelaskan Pengertian Beriman kepada Nabi dan Rasul Allah SWT dan dalilnya

·        Menjelaskan pengertian Nabi dan Rasul

·        Menjelaskan sifat-sifat Nabi dan Rasul Allah SWT

·        Menjelaskan perbedaan Nabi dan Rasul

TUJUAN PEMBELAJARAN

Melalui pemahaman dan penyampaian materi melalui blog ini sebagai bahan literasi pendukung, peserta didik dapat membaca dan mengetahui makna yang terkandung dalam Tema Indahnya Beragama Secara Moderat serta Peduli terhadap Sesama  dengan baik serta mempresentasikan maknanya di depan kelas menggunakan PPT atau video/mind map atau karya lain sesuai dengan diferensiasi gaya belajar siswa.

Assalamu'alaikum Wa Rohmatullahi .Wa Barokatuh.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita memasuki materi hari ini, mari kita  ingat lagi tentang materi Sebelumnya yakni Indahnya Beragama Secara Moderat

MATERI

Menjadi Generasi Digital yang Berkarakter

Pengertian Iman kepada Rasul Allah Beserta Hikmah & Maknanya

Iman kepada rasul merupakan salah satu pilar yang terdapat dalam rukun iman dalam Islam. Selain diimani, para rasul juga mesti dijadikan teladan oleh umat muslim.

Hal ini sejalan dengan tujuan Allah Swt. mengutus rasul-rasul-Nya, yakni untuk dijadikan teladan dan contoh bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri rasul itu suri teladan yang baik bagimu,” (al-Ahzāb [33]: 21).

Mengimani rasul tidak bisa dilepaskan dari keyakinan terhadap kitab-kitab Allah Swt. Hal ini karena sejatinya rasul merupakan utusan Allah Swt. yang bertugas menyampaikan wahyu dalam bentuk perkataan maupun kitab yang dimukjizatkan kepadanya.

Lalu, apa pengertian iman kepada rasul Allah? Apa saja hikmah dan makna yang bisa diambil oleh umat muslim?

Pengertian Iman kepada Rasul Allah

Iman kepada rasul artinya meyakini bahwa rasul merupakan utusan Allah Swt., yang ditugaskan membimbing umatnya ke jalan kebenaran agar selamat di dunia dan akhirat.

Beriman kepada rasul-rasul Allah merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Umat Islam juga wajib mengimani ajaran yang dibawa para rasul melalui kitab suci. Perintah beriman kepada rasul Allah terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 136.

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya [Muhammad] dan kepada Kitab [Al-Qur’ān] yang diturunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh,” (Q.S. An-Nisā [4]: 136).

Kandungan ayat tersebut menjelaskan bahwa salah satu poin keimanan dalam Islam adalah meyakini rasul-rasul Allah. Secara definisi, rasul adalah manusia pilihan Allah Swt. yang diangkat sebagai utusan untuk menyampaikan firman-Nya kepada umat manusia supaya dijadikan sebagai pedoman hidup.

Sementara itu, yang dimaksud dengan nabi adalah manusia pilihan yang diberikan wahyu oleh Allah Swt. untuk dirinya sendiri dan tidak berkewajiban menyampaikan kepada umatnya. Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abi Zar ra., saat ditanya tentang jumlah para nabi, Rasulullah menjawab: “Jumlah para nabi itu adalah 124.000, sedangkan jumlah rasul adalah 312.”

Tidak semua nabi dapat dikategorikan sebagai rasul. Keduanya berbeda dari segi tugas. Adapun jumlah nabi yang mendapat gelar ulul azmi ada lima, yakni Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad.

Makna Iman kepada Rasul Allah

Dengan beriman kepada Rasul Allah, artinya, seorang muslim meyakini bahwa kenabian bukanlah tujuan atau prestasi yang bisa dicapai oleh orang biasa. Kenabian bukan bukan pula merupakan pangkat yang bisa ditempuh dengan berjuang.

Kenabian merupakan kedudukan tinggi dan pangkat istimewa yang dianugerahkan oleh Allah. Sosok nabi dan rasul ditunjuk oleh Allah sesuai yang dikehendaki-Nya.

Pada dasarnya, iman kepada nabi dan rasul tidak bisa dilepaskan dari rukun iman lainnya. Di antaranya iman kepada Allah, malaikat, kitab, hari kiamat, serta qada dan qadar.

Hal ini lantaran rukun iman saling berkaitan. Misalnya, kitab Allah diturunkan kepada rasul. Isinya ialah ajaran Islam, mulai dari pengetahuan soal malaikat, hari kiamat, juga qada dan qadar.

Cara Iman kepada Rasul

Iman kepada nabi dan rasul tidak hanya ada di dalam hati. Seorang muslim yang mengimani rasul Allah semestinya juga mewujudkan keyakinan tersebut melalui tindakan.

Contoh iman kepada rasul dalam bentuk perilaku sehari-hari ialah tidak menjaga lisannya. Hal ini lantaran rasul mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan.

Berikut beberapa cara iman kepada rasul dalam kehidupan sehari-hari.

1.   Cara iman kepada rasul salah satunya ialah selalu belajar dengan tekun sepanjang hayat, meneladani sifat rasul Allah, yakni fathonah 'cerdas'.

2.   Contoh iman kepada rasul juga bisa berupa penerapan tingkah laku baik kepada sesama, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.

3.   Contoh iman kepada rasul juga mencakup perilaku tidak berkata dusta karena rasul memiliki sifat terpercaya alias amanah.

4.   Cara iman kepada rasul yang lainnya ialah berusaha meneladani perilaku sehari-hari.

5.   Kita bisa menerapkan cara iman kepada rasul dengan membaca dan mengikuti hadis sahih.

Buah Iman kepada Rasul Allah

Kewajiban untuk beriman kepada rasul Allah mengandung hikmah penting bagi umat manusia. Salah satu buah iman kepada rasul adalah mendapatkan rahmat dari Allah Swt., sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 berikut:

“Sungguh, telah ada pada [diri] rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah,” (QS Al-Ahzab [33]:21).

Beberapa manfaat dan hikmah beriman kepada rasul yakni:

·        Menjadi sebuah motivasi untuk melakukan perilaku sosial yang baik dalam masyarakat.

·        Tidak akan kehilangan arah dalam contoh manusia yang baik.

·        Menghadirkan mahabbah 'rasa cinta' kepada para rasul dan mulai mencontoh perilaku-perilaku terpujinya.

·        Mengetahui hakikat hidup seorang manusia, yaitu untuk taat beribadah kepada Allah Swt.

EVALUASI

1.     Siswa dan guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.

2.     Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan perbaikan.

3.     Menginformasikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.

4.     Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

KESIMPULAN

Bagaimana anak anak, pada materi kali ini apakah kalian sudah memahami makna dan mampu memahami tentang Menjadi Generasi Digital yang Berkarakter.

Baiklah... Berikut kesimpulan materinya : Menjadi Generasi Digital yang Berkarakter maka  harus mampu berakhlaq dan beraqidah baik dan benar sesuai ajaran islam. Karena keselamatan hidup di masa yang akan datang. Aturannya adalah arah jalan yang lurus.

Tetap semangat  dalam belajar tanpa batas karena islam mengajarakan kepada kita semua BELAJARLAH MULAI DARI BUAIAN HINGGA LIANG LAHAT.

BUKU REFERENSI :

Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti terbitan Kemdikbud Kurikulum Merdeka.

Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti Tiga serangkai Kurikulum merdeka

Kitab Al-Quran Terbitan Kementrian Agama dan referensi lain yang

Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti oleh Kemendikbud (2017), beriman kepada para rasul Allah memberikan manfaat dan hikmah kepada umat Islam.

Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti P2 Kelas 8 Tema Indahnya Beragama Secara Moderat

 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI

IDENTITAS

Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam

Kelas / Fase

8 (Delapan)  / Fase D

Elemen Mapel

Al-Quran dan Hadits

Pertemuan Ke

2 (Dua)

Guru Pengampu

Achmad Rifki, S.Ag

Waktu Pembelajaran

Senin, Selasa, Rabu / 02, 03, 04 Januari 2025(Sesuai Jadwal)

CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)

Elemen Mapel

Capaian Pembelajaran

Aqidah

Pada akhir fase ini, peserta didik mampu:

Peserta didik dapat menjelaskan hukum bacaan Nun Sukun/Tanwin dan Miim Sukun

Peserta didik dapat menunjukkan huruf Nun Sukun/Tanwin dan Miim Sukun.

Peserta didik dapat menunjukkan contoh bacaan Nun Sukun/Tanwin dan Miim Sukun.

Peserta didik dapat menerapkan bacaan Nun Sukun/Tanwin dan Miim Sukun

TUJUAN PEMBELAJARAN

Melalui pemahaman dan penyampaian materi melalui blog ini sebagai bahan literasi pendukung, peserta didik dapat membaca dan mengetahui makna yang terkandung dalam Tema Indahnya Beragama Secara Moderat serta Peduli terhadap Sesama  dengan baik serta mempresentasikan maknanya di depan kelas menggunakan PPT atau video/mind map atau karya lain sesuai dengan diferensiasi gaya belajar siswa.

Assalamu'alaikum Wa Rohmatullahi .Wa Barokatuh.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita memasuki materi hari ini, mari kita  ingat lagi tentang materi Sebelumnya yakni Indahnya Beragama Secara Moderat

MATERI

16 Hukum Tajwid dan Contohnya, dari Nun Sukun hingga Qalqalah

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur'an adalah memahami ilmu tajwid. Ilmu tersebut mengatur sejumlah hukum bacaan mulai dari nun sukun atau tanwin hingga qalqalah.

Khalilurrahman El-Mahfani menjelaskan dalam buku Belajar Cepat Ilmu Tajwid, kata 'tajwid' berasal dari bahasa Arab 'jawwada-yujawwidu-tajwid' (جوّد-يجوّد-تجويدا) yang artinya membaguskan.

Adapun, menurut istilah, tajwid adalah membaguskan bacaan huruf-huruf atau kalimat-kalimat Al-Qur'an satu persatu dengan terang, teratur, perlahan, dan tidak tergesa-gesa. Sehingga, ilmu tajwid dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.

Sementara itu, menurut 'Athiyyah Qabil Nashar sebagaimana dijelaskan Marzuki dan Sun Choirol Ummah dalam buku Dasar-dasar Ilmu Tajwid, tajwid adalah ilmu yang membahas kata-kata ayat Al-Qur'an dari segi pemberian huruf pada haknya yang berupa sifat-sifat yang lazim diperlukan.

16 Hukum Bacaan Tajwid

Ada berbagai macam hukum bacaan tajwid dalam Al-Qur'an. Di antaranya hukum nun sukun dan tanwin, hukum mim sukun, hukum mim dan nun bertasydid, hukum mad, hukum idgham shagir, dan qalqalah.

Hukum nun sukun dan tanwin terdiri dari izhar halqi, idgham bighunnah dan idgham bilaghunnah, iqlab, dan ikhfa hakiki. Kemudian, hukum mim sukun terdiri dari ikhfa syafawi, idgham mitslain, dan izhar syafawi.

Selanjutnya, pada hukum mad terdiri dari mad ashli dan mad far'i, sedangkan hukum idgham shagir terdiri dari idgham mutamatsilain, idhgam mutajanisain, dan idgham mutaqaribain.

Sementara itu, hukum qalqalah terdiri dari qalqalah sugra dan qalqalah kubra. Berikut penjelasan tajwid selengkapnya.

1. Izhar Halqi

Mengutip buku Pintar Al-Qur'an oleh Abu Nizhan, secara bahasa, izhar adalah bayan atau jelas, sedangkan menurut istilah adalah membaca nun mati (نْ) atau tanwin ( ـَــًـ , ـِــٍـ , ـُــٌـ ) dengan jelas tanpa suara dengung atau disamarkan.

Ada enam huruf izhar, yaitu hamzah (ء), kha (ح), ha (خ), ain (ع), ghain (غ), dan ha' (هـ).

Contoh bacaan izhar:

عَنْهُ أَغْنَىٰ مَآ

Arab latin: Mā agnā 'an-hu (QS Al Lahab: 2)

2. Idgham Bighunnah

Secara bahasa, idgham artinya idkhal atau memasukkan, sedangkan secara istilah adalah menyamarkan atau meleburkan nun mati atau tanwin dengan huruf-huruf idgham sehingga seolah-olah menjadi satu huruf yang bertasydid.

Adapun, idgham bigunnah yaitu jika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ya (ي), nun (ن), mim (م), dan wau (و), maka harus dibaca idgham disertai dengan dengung di hidung (gunnah).

Contoh bacaan idgham bighunnah:

وَتَبَّ لَهَبٍ أَبِى

Arab latin: Abī lahabiw wa tabb (QS Al Lahab: 1)

3. Idgham Bilaghunnah

Idgham bilaghunnah yaitu jika nun mati atau tanwin bertemu dengan lam (ل) dan ra (ر), maka harus dibaca idgham tanpa disertai dengung di hidung (gunnah).

Contoh bacaan idgham bilaghunnah:

لَهُ يَكُنْ وَلَمْ

Arab latin: Wa lam yakul lahụ (QS Al Ikhlas: 4)

4. Iqlab

Secara bahasa, iqlab artinya memindahkan atau mengubah sesuatu dari asalnya, sedangkan menurut istilah adalah mengubah atau menggantikan nun mati menjadi mim disertai dengungan jika bertemu dengan huruf ba (ب).

Contoh bacaan iqlab:

بَعْدِ مِنْۢ

Arab latin: mimm ba'di (QS Al Bayyinah: 4)

5. Ikhfa Hakiki

Hukum nun mati dan tanwin selanjutnya adalah ikhfa. Secara bahasa, ikhfa artinya satru yang berarti menutupi atau menyamarkan. Adapun menurut istilah, ikhfa adalah menyamarkan nun mati atau tanwin karena muncul suara dengungan (gunnah) jika bertemu dengan 15 huruf.

Huruf ikhfa antara lain kaf ( ك ), qaf ( ق ), fa' ( ف ), zha ( ظ ), tha ( ط ), dhad ( ض ), shad ( ص ), syin ( ش ), sin ( س ), za' ( ز ), dzal ( ذ ), dal ( د ), jim ( ج ), tsa' ( ث ), dan ta' ( ت ).

Contoh bacaan ikhfa:

لْإِنسَٰنَٱ خَلَقْنَا لَقَدْ

Arab latin: Laqad khalaqnal-insāna (QS At Tin: 4)

6. Ikhfa Syafawi

Mengutip buku Ilmu Tajwid Praktis karya Muhammad Amri Amir, ikhfa syafawi yaitu ketika mim sukun (مْ) bertemu dengan huruf ba (ب). Dalam hal ini, mim sukun dibaca tampak samar disertai ghunnah.

Contoh ikhfa syafawi:

بِحِجَارَةٍ تَرْمِيهِم

Arab latin: Tarmīhim biḥijāratim (Al Fil ayat 4)

7. Idgham Mitslain

Idgham mitslain adalah hukum bacaan ketika mim sukun (مْ) bertemu dengan huruf mim yang berharakat (مَ مِ , مُ). Cara membacanya harus disertai dengan ghunnah.

Contoh idgham mitslain:

 

 امَلَهُمْ

Arab-latin: lahummmmaa yattaquuna

8. Izhar Syafawi

Izhar syafawi adalah ketika mim sukun (مْ) bertemu dengan huruf hijaiyyah selain huruf mim (م) dan ba (ب). Cara membacanya mim sukun tampak jelas dan tanpa ghunnah.

Contoh izhar syafawi:

عَلَيْهِمْ نْعَمْتَ أَ

Arab latin: An'amta 'alaihim (Al Fatihah ayat 7)

9. Mim Bertasydid dan Nun Bertasydid

Mim bertasydid (مّ) dan nun bertasydid (نّ) juga dikenal dengan ghunnah musyaddah. Apabila bertemu hukum bacaan ini maka harus digunnahkan sepanjang 2 harakat.

Contoh mim bertasydid:

وَمِمَّا

Arab-latin: wa mimma

Contoh nun bertasydid:

إِنَّهُمْ

Arab-latin: innahum

10. Mad Ashli/Thabi'i

Tajwid selanjutnya adalah mad. Secara bahasa mad artinya bertambah dan memanjang, sedangkan menurut istilah adalah memanjangkan suara dengan huruf mad atau lin ketika adanya suatu sebab seperti hamzah (ء) dan sukun (ه).

Jenis mad yang pertama adalah mad ashli atau mad thabi'i. Hukum ini berlaku pada alif (ا) sesudah fathah, ya (ي) sukun sesudah kasrah, dan wau (و) yang sesudah dhammah.

Contoh mad ashli:

بِّ ٱلنَّاسِ

Arab latin: Birabbin-nās (QS An Nas ayat 1).

11. Mad Far'i

Hukum tajwid ini mengharuskan ayat dibaca lebih panjang dari mad asli. Tambahan dikarenakan adanya hamzah (ء) atau sukun (ه) dalam ayat. Contohnya adalah:

Contoh mad far'i:

خَيْرٌ ءَآللَّهُ

Arab latin: Allāhu khairun (QS An Naml ayat 59).

12. Idgham Mutamatsilain atau Idgham Mimi

Tajwid ini berlaku jika ada dua huruf bertemu dengan makhroj dan sifat yang sama, kecuali wau (و) dan ya (ي). Cara membacanya adalah dimasukkan, diidghamkan, atau ditasydidkan kepada huruf yang kedua.

Contoh idgham mutamatsilain:

تُكْرِمُ لَّا لبَ

Arab latin: bal lā tukrimụ (QS Al Fajr ayat 17).

13. Idgham Mutajanisain

Hukum bacaan ini berlaku saat dua huruf bertemu dengan makhroj yang sama, namun sifatnya berbeda.

Contoh idgham mutajanisain:

رَبَّهُمَا الهَل دَعَوَ اَثْقَلَتْ فَلَمَّا

Arab latin: Fa lammā aṡqalad da'awallāha rabbahumā (QS Al A'raf ayat 189).

14. Idgham Mutaqaribain

Hukum tajwid ini berlaku jika ada dua huruf bertemu dengan makhraj dan sifat yang hampir sama (berdekatan). Huruf yang termasuk idgham mutaqaribain adalah lam (ل) dan ra (ر), serta kaf (ﻙ) dan qaf (ﻕ).

Contoh idgham mutaqaribain:

رَّبُّكُمْ فَقُل

Arab latin: Fa qur rabbukum (QS Al An'am ayat 147)

15. Qalqalah Sugra

Hukum ini berlaku jika huruf qalqalah yakni ba (ب), jim (ج), dal (د), ta (ط), dan qaf (ق) berada di tengah ayat, dengan suara dipantulkan tidak terlalu kuat.

Contoh qalqalah sugra:

رَزَقْنَٰهُمْ

 

Arab latin: razaqnāhum (Qs Al Baqarah ayat 3)

16. Qalqalah Kubra

Cara baca tajwid ini adalah dengan pantulan cukup kuat. Huruf qalqalah kubra berada di akhir ayat.

Contohnya qalqalah kubra:

وَ ٱلْمَوْعُودِٱلْيَوْمِ

Arab latin: Wal-yaumil-mau'ụd (QS Al Buruj ayat 2)

EVALUASI

1.     Siswa dan guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.

2.     Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan perbaikan.

3.     Menginformasikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.

4.     Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

KESIMPULAN

Bagaimana anak anak, pada materi kali ini apakah kalian sudah memahami makna dan mampu memahami tentang Indahnya Beragama Secara Moderat.

Baiklah... Berikut kesimpulan materinya : Indahnya Beragama Secara Moderat maka  harus mampu berakhlaq dan beraqidah baik dan benar sesuai ajaran islam. Karena keselamatan hidup di masa yang akan datang. Aturannya adalah arah jalan yang lurus.

Tetap semangat  dalam belajar tanpa batas karena islam mengajarakan kepada kita semua BELAJARLAH MULAI DARI BUAIAN HINGGA LIANG LAHAT.

BUKU REFERENSI :

Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti terbitan Kemdikbud Kurikulum Merdeka.

Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti Tiga serangkai Kurikulum merdeka

Kitab Al-Quran Terbitan Kementrian Agama dan referensi lain yang Relevan