PAI KELAS 9 SEMESTER GENAP Pertemuan Ke 2 BAB 7

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI

(Pertemuan Ke 2)

IDENTIFIKASI

Hari / Tanggal     : Kamis dan Jumat / 10 dan 11 Feb  2022

Mata Pelajaran   : Pendidikan Agama Islam

Kelas                  : 9 (Sembilan) A dan B

KD :

2.4.   Menunjukkan perilaku  tawakal kepada  Allah  Swt sebagai implementasi pemahaman iman Kepada qadha dan qadar

Materi :

BERIMAN KEPADA QADA' DAN QADAR BERBUAH KETENANGAN HATI

APERSEPSI :

Assalaamu’alaikum anak-anak didik ku yang soleh dan solehah.

Bagaimna kabarnya hari ini semoga selalu diberikan keberkahan ya....

Aamiin 3x Yaa Robbal ‘Aalamiin....

O iya... Mari kita mulai pelajaran kali ini dengan berdoa dan mengucap sykur kepada Allah SWT agar senantiasa nikmat yang telah diberikan-Nya bisa menjadi berkah....

Rasa syukur kita kepada Allah dapat pula kita apresiasikan dalam bentuk taat beribadah sesuai petunjuk Na dan tetap bersemangat dalam menuntut ilmu....

Bagaimana anak-anak didik ku yang soleh dan soleha subuh ini sholat tepat waktu kan sebaiknya yang laki-laki upayakan sholat subuhnya berjama’ah di masjid atau musholla-musholla terdekat dari rumah mu dan yang perempuan lebih baik berjama’ah di rumah guna menghindari fitnah, jangan lupa pula nanti sholat dhuha dan muroja’ah hafalan mu ya...

Semoga apa yg kita lakukan hari ini bisa menjadi ladang pahala untuk kita semua....

Aamiin 3x Yaa Robbal ‘Aalamiin....

TUJUAN PEMBELAJARAN :

Melalui pendekatan tertulis pada blog dan tayangan video maka diharapkan dapat Meyakini bahwa Beriman Kepada Qada' dan Qadar Berbuah Ketenangan Hati adalah perintah agama dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

VIDEO PEMBELAJARAN :


PEMBAHASAN :

TAWAKAL KEPADA  ALLAH  SWT SEBAGAI IMPLEMENTASI PEMAHAMAN IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR

Tawakkal

Tawakkal artinya berserah diri kepada Allah setelah berusaha. Setiap orang wajib berusaha untuk mewujudkan keinginan dan kehendaknya. Setelah usaha sebaik mungkin, barulah orang tersebut menyerahkan segala hasil dan keputusan kepada Allah. Usaha yang dilakukan oleh seseorang bukan hanya usaha lahiriah saja, tetapi seseorang wajib memanjatkan do’a kepada Allah, supaya apa yang telah diusahakan dapat dikabulkan oleh Allah.

Kemudian, apakah Islam mengajarkan manusia hanya berdo’a saja?

Tentu tidak, tawakkal yang benar adalah tawakal yang disertai dengan usaha dan do’a.

Islam melarang setiap pemeluknya untuk menganut fatalisme, yaitu paham atau ajaran yang mengharuskan berserah diri pada nasib dan tidak perlu berikhtiar, karena hidup manusia dikuasai dan ditentukan oleh nasib. Fatalisme adalah paham yang keliru, menyimpang dari ajaran tentang iman pada takdir, penghambat kemajuan dan penyebab kemunduran umat. Setiap muslim (muslimat) yang betul-betul beriman kepada takdir, selain wajib untuk berikhtiar, juga wajib bertawakkal kepada Allah SWT.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman sebagai berikut

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 

Artinya :

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. 3. Ali Imran: 159).

Selain itu, Allah SWT juga berfirman :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 

Artinya :

“Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah di tetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. 9. At-Taubah: 51).

Seorang muslim (muslimat) yang betul-betul bertawakkal pada Allah, tentu akan berusaha agar senantiasa bersikap dan berprilaku sesuai dengan kehendak Allah SWT. yaitu melaksanakan semua perintahnya dan meninggalkan semua apa yang dilarangnya. Muslim/muslimat yang selama hidupnya betul-betul bertawakkal kepada Allah SWT dan beriman kepada Qadha dan Qadar, tentu akan memperoleh banyak hikmah antara lain sebagai berikut :

·        Dicintai oleh Allah SWT.

   فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 

Artinya :

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. 3. Ali Imran: 159).

·        Dianugerahi rezeki yang cukup

Allah SWT berfirman :

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا 

Artinya :

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (keperluannya)….” (QS. 65.At-Talaq: 3).

·        Dianugerahi ketentraman hidup, tidak akan gelisah dan berkeluh kesah, apalagi putus asa. Hal ini disebabkan karena orang yang bertawakkal pada Allah akan bersyukur bila berada dalam situasi yang menyenangkan, dan berusaha sabar apabila dalam kesusahan.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ 

Artinya :

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. 57. Al-Hadid: 22-23).

·        Disenangi oleh orang banyak, karena budi pekertinya yang terpuji dan hidupnya yang bermanfaat.

·        Berjiwa Qana’ah. Orang yang Qana’ah tidak tamak atau rakus dalam melihat sesuatu. Dia merasa cukup dengan pemberian Allah.

·        Berani menghadapi persoalan hidup, karena yakin Allah member beban kepadanya sesuai dengan kadar kemampuannya.

·        Memiliki keberanian untuk berjuang di jalan Allah.

·        Memiliki jiwa yang tenang, tidak sombong, iri dan dengki.

·        Mampu mengendalikan dirinya disaat suka maupun duka.

 

PETUNJUK PEMBELAJARAN :

Baca materinya dan simak videonya terlebih dahulu lalu fahami, kerjakan tugas dan kirim ke whatsapp.

TUGAS :

Baca tulisan di atas kemudian simpulkan

Setelah di kerjakan kirim ke WhatsApp dalam bentuk foto grid dan jangan lupa kirim juga SS Absen blog, berkomentarlah secara jujur nama dan kelas, sudah sholat subuh dan dhuha tepat waktu atau tidak, sudah muroja'ah atau belum