PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI
IDENTITAS
|
Mata Pelajaran |
Pendidikan Agama Islam |
|
Kelas / Fase |
8 (Delapan) / Fase D |
|
Elemen Mapel |
Sejarah Peradaban Islam |
|
Pertemuan Ke |
-- |
|
Guru Pengampu |
Achmad Rifki, S.Ag |
|
Waktu Pembelajaran |
Senin, Selasa, Rabu / 17, 18, 19 Nov 2025
(Sesuai Jadwal) |
CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)
|
Elemen Mapel |
Capaian Pembelajaran |
|
Sejarah Peradaban Islam |
Pertemuan 1 Pada akhir fase ini, peserta didik
mampu: Dapat menjelaskan Mempelajari
Sejarah berdirinya Masa Keemasan Islam Era Daulah Abbasiyah (750-1258 M) Pertemuan 2 Pada akhir fase ini, peserta didik
mampu: ·
Menjelaskan Bait al-Hikmah sebagai pusat studi ilmu pengetahuan ·
menjelaskan kemajuan peradaban Islam di bidang Seni pada masa
Bani Abbasiyah ·
Menjelaskan kemajuan peradaban Islam di bidang
ilmu pengetahuan pada masa Bani Abbasiyah Pertemuan 3 Pada akhir fase ini, peserta didik
mampu: ·
Menjelaskan Bait al-Hikmah sebagai pusat studi ilmu pengetahuan ·
menjelaskan kemajuan peradaban Islam di bidang Seni pada masa
Bani Abbasiyah ·
Menjelaskan kemajuan peradaban Islam di bidang
ilmu pengetahuan pada masa Bani Abbasiyah |
TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui pemahaman dan penyampaian materi
melalui blog ini sebagai bahan literasi pendukung, peserta didik dapat membaca
dan mengetahui makna yang terkandung Menjadi Generasi Pecinta Al-Qur’an Yang
Toleran dengan baik serta
mempresentasikan maknanya di depan kelas menggunakan PPT atau video/mind map
atau karya lain sesuai dengan diferensiasi gaya belajar siswa.
Assalamu'alaikum Wa Rohmatullahi .Wa
Barokatuh.
الـحَمْدُ للهِ رَبِّ
العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ
وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
، أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin,
wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa
wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum
biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.
Materi Pertemuan 1
Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah hingga
Keruntuhannya
Bani Abbasiyah
adalah dinasti penting dalam sejarah peradaban Islam. Kekhalifahan Bani
Abbasiyah berdiri setelah runtuhnya Bani Umayyah.
Sejarah
berdirinya Bani Abbasiyah tercatat dalam sejumlah literatur Islam. Pemerintahan
Bani Abbasiyah dinisbatkan kepada paman Rasulullah SAW yang bernama Abbas bin
Abdil Muththalib, sebagaimana dijelaskan dalam buku Sejarah Dakwah karya Samsul
Munir Amin
Berdirinya Bani Abbasiyah pada Tahun 750
M
Bani Abbasiyah berdiri pada tahun 132 H atau bertepatan pada tahun 750 M.
Menurut buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Abu Achmadi dan Sungarso, pendiri
dan khalifah pertama dinasti ini adalah Abu Abbas As-Saffah.
Dinasti Bani
Abbasiyah berlangsung mulai dari tahun 132 H/750 M sampai tahun 656 H/1258 M.
Dinasti ini didirikan dan dipimpin oleh keturunan Abbas bin Abdul Muthalib,
paman Rasulullah SAW. Oleh karena itu disebut dengan Dinasti Abbasiyah.
Terdapat tiga
faktor penting yang menyebabkan berdirinya Dinasti Bani Abbasiyah ini, yaitu:
·
Faktor berdirinya Bani Abbasiyah yang
pertama adalah karena merasa lebih berhak daripada Bani Umayyah atas
kekhalifahan Islam. Apalagi Bani Hasyim yang secara nasab keturunan lebih dekat
dengan Nabi Muhammad SAW.
·
Faktor kedua adalah karena sistem
pemerintahan Dinasti Umayyah makin menyimpang jauh dari nilai-nilai agama
Islam.
·
Faktor yang terakhir adalah karena Bani
Abbasiyah merupakan orang-orang yang tersingkir dari kekuasaan Dinasti Umayyah
sehingga mereka melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang berkuasa.
Penggulingan Dinasti Umayyah oleh Bani
Abbasiyah
Sebagaimana
disebutkan di atas, orang-orang Bani Abbasiyah melakukan pemberontakan kepada
Bani Umayyah yang saat itu memimpin dengan tidak baik.
Gerakan
pemberontakan ini dipimpin oleh keturunan paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abbas
bin Abdul Muthalib, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abdullah, dan Muhammad bin Ali.
Mereka berhasil membangun jaringan oposisi yang cukup luas dan mendapat
dukungan dari berbagai pihak.
Akhirnya, dalam
pertempuran Karbala, dinasti dari Bani Abbasiyah yang dipimpin oleh Kahtaba
berhasil meraih kemenangan dengan mengalahkan gubernur Dinasti Umayyah, Yazid.
Dinasti Abbasiyah berhasil menguasai Kufah.
Pada tahun 794
M, Abu Ayun dari Bani Abbasiyah berhasil melancarkan usaha terakhirnya untuk
menggulingkan pemerintahan Dinasti Umayyah. Ia mengerahkan 120.000 pasukan
menuju Zab Hulu atau Zab Besar. Sehingga pertempuran ini dikenal dengan Perang
Az-Zabb.
Akhirnya,
Dinasti Umayyah benar-benar sudah dikalahkan. Damaskus pun jatuh ke tangan Bani
Abbasiyah. Kemudian, Abbas As-Saffah dibaiat sebagai khalifah di Masjid Kufah
pada tahun 750 M.
Masa kekuasaan
Dinasti Abbasiyah berlangsung selama lima abad, tepatnya 508 tahun. Selama pemerintahan
ini berdiri, kekuasaan dibagi atas lima periode.
Pola
pemerintahan pada dinasti ini berbeda-beda, sesuai dengan perubahan politik
yang mempengaruhinya. Misalnya dari Persia, Turki, Buwaih, dan Seljuk.
Namun, pada
periode kelima, kekuasaan Dinasti Abbasiyah tidak lagi dipengaruhi bangsa
manapun.
Lima Periode Dinasti Bani Abbasiyah
1. Periode Pertama
Periode pertama
Dinasti Abbasiyah berlangsung dari tahun 132-232 H atau 750-847 M. Mengutip
dari buku Sejarah Peradaban Islam karya Suyuthi Pulungan, khalifah yang
memimpin dinasti itu mulai dari Abu Abbas As-Saffah sampai Abu Al-Fadl Ja'far
Al-Mutawakkil.
Kekuasaan pada
periode pertama berada pada khalifah yang memimpin tentara untuk berperang.
Sehingga pada saat inilah merupakan masa kejayaan Bani Abbasiyah. Periode ini
disebut sebagai periode pengaruh Persia pertama.
2. Periode Kedua
Periode Bani
Abbasiyah kedua berlangsung pada tahun 232-590 H atau 847-1184 M, yaitu dari
khalifah Abu Ja'far Muhammad Al-Muntasir sampai Abu Al-Abbas Ahmad Nasir.
Periode ini
diwarnai corak politik Turki, Bani Buwaih, dan Bani Saljuk. Periode kedua
Dinasti Abbasiyah ini disebut periode pengaruh Turki pertama.
3. Periode Ketiga
Periode ketiga
Bani Abbasiyah berlangsung pada tahun 590-656 H. Pada masa ini, kekuasaan kembali
ke tangan khalifah, tetapi terbatas hanya daerah Baghdad dan sekitarnya.
Oleh sebab itu,
periode ini secara umum bisa dikatakan lemah dan tidak dapat melawan kehendak
jenderal Turki.
4. Periode Keempat
Periode keempat
Bani Abbasiyah ditandai dengan pengaruh Bani Saljuk yang dipimpin oleh dua
belas orang khalifah. Dalam periode ini, terjadi dua peristiwa besar umat
Islam, yakni Perang Salib dan penyerangan bangsa Mongol ke Baghdad.
5. Periode Kelima
Pada periode
kelima Bani Abbasiyah sudah mengalami banyak kemunduran. Terlebih lagi banyak
serangan dari luar, seperti Perang Salib dan penyerangan Bangsa Mongol.
Kemudian, daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan juga banyak yang
memerdekakan diri.
Akhirnya,
Dinasti Bani Abbasiyah benar-benar hancur pada tahun 1258 M di bawah
kepemimpinan Abu Ahmad Abdullah Al-Mu'tashim Billah.
Ada perbedaan
pendapat terkait periodisasi Bani Abbasiyah. Pendapat lain membagi dinasti ini
dalam empat periode. Periode pertama (750-847 M) dipimpin 9 khalifah, periode
kedua (847-945 M) ada 13 khalifah, periode ketiga (945-1055 M) dipimpin 5 orang
khalifah, dan periode keempat (1055-1258 M) dipimpin 12 khalifah
Materi Pertemuan 2
Sejarah dan
Signifikansi Perpustakaan Islam Terbesar
Bait al-Hikmah
adalah salah satu perpustakaan Islam terbesar yang pernah ada. Terletak di
Baghdad, Irak, perpustakaan ini dibangun pada abad ke-8 oleh Khalifah Harun
al-Rashid. Bait al-Hikmah berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kultur
bagi masyarakat Muslim pada masanya.
Perpustakaan
ini dikenal sebagai tempat yang sangat penting bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan filsafat Islam. Banyak sekali ilmuwan dan filsuf Muslim
terkenal, seperti Al-Kindi dan Al-Farabi, yang menjadi bagian dari kegiatan
intelektual yang terjadi di Bait al-Hikmah. Perpustakaan ini juga menjadi
tempat untuk menyimpan ribuan manuskrip dan buku yang berisi pengetahuan dan
informasi dari berbagai bidang.
Bait Al-Hikmah
atau Baitul Hikmah juga merupakan pusat
ilmu dan buku pada masa kejayaan Islam klasik. Bait Al-Hikmah pertama kali
dibangun pada abad ke-8 M di kota Baghdad, Irak, dan menjadi salah satu
institusi penting dalam sejarah dunia. Bait Al-Hikmah didirikan oleh Khalifah
Harun Al-Rashid, yang merupakan salah satu pemimpin terkenal dalam sejarah
Islam. Ia memahami pentingnya ilmu dan pengetahuan bagi kemajuan umat manusia,
dan memutuskan untuk membangun sebuah pusat ilmu yang menjadi sarana bagi orang
untuk mencari dan mempelajari ilmu. Kemudian Perpustakaan islam klasik terbesar
ini mengalami kemajuan yang pesat pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun.
Bait Al-Hikmah
menjadi salah satu tempat terpenting bagi para ilmuwan, filsuf, dan sarjana
untuk berkumpul dan berbagi pengetahuan. Gedung ini menjadi tempat pembelajaran
dan penelitian bagi para sarjana, dan memiliki ribuan buku yang mencakup
berbagai bidang ilmu, seperti sastra, filsafat, matematika, dan astronomi.
Bait al-Hikmah
memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat Islam
pada masa itu, dan banyak mempengaruhi pengembangan ilmu pengetahuan dan
filsafat pada abad ke-9 dan ke-10. Perpustakaan ini menjadi salah satu sumber
utama bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa itu, dan
menjadi tempat yang sangat penting bagi pertukaran ide dan pengetahuan antar
ilmuwan dan filsuf. Bait Al-Hikmah juga punya andil besar dalam perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa itu. Banyak ilmuwan dan sarjana yang
mempelajari dan meneliti ilmu di Bait Al-Hikmah, dan membuat banyak penemuan
dan kontribusi yang berpengaruh pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
Namun,
perpustakaan ini hancur pada abad ke-13 sebagai akibat dari serangan bangsa
Mongol. Kehancuran perpustakaan ini menandakan kehilangan banyak sekali
manuskrip dan buku yang berisi pengetahuan dan informasi penting.
Meskipun
perpustakaan Bait al-Hikmah sudah tidak ada lagi, namun legasinya tetap terasa
sampai sekarang. Perpustakaan ini menjadi salah satu contoh penting dari
sejarah perpustakaan Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat Islam
pada masa lalu.
Secara
keseluruhan, Bait Al-Hikmah adalah contoh penting dari institusi yang
memfasilitasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta membantu
memajukan umat manusia. Gedung ini merupakan salah satu tempat penting bagi
para sarjana untuk berbagi dan mempelajari ilmu, dan memberikan inspirasi bagi
generasi masa kini untuk terus mempromosikan ilmu dan pengetahuan.
Bait al-Hikmah
adalah pusat ilmu pengetahuan dan kultur Islam pada masanya. Perpustakaan ini
didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid di Baghdad, Irak pada abad ke-8. Bait
al-Hikmah memiliki beberapa fungsi, di antaranya: Perpustakaan, Lembaga
pendidikan, Lembaga riset, Observatorium, Biro penerjemahan.
Bait al-Hikmah
memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan, di antaranya:
·
Menerjemahkan buku-buku dari bahasa
Yunani, India, dan Persia ke dalam bahasa Arab
·
Menjadi tempat berkembangnya para ilmuwan
·
Membentuk pola pikir
·
Membantu memajukan perkembangan berbagai
disiplin ilmu, seperti matematika, fisika, astronomi, kedokteran, kimia,
filsafat, dan teknik
Bait al-Hikmah
mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Ma'mun. Pada masa
pemerintahannya, Bait al-Hikmah dibuka untuk publik dan menjadi lembaga formal.
Bait al-Hikmah runtuh akibat konflik politik internal dan serangan Mongol.
Kemajuan Peradaban Islam Di Bidang Seni Pada
Masa Bani Abbasiyah
Daulah
Abbasiyah merupakan kekhalifahan yang berkuasa selama masa kejayaan Islam,
yakni antara tahun 750 hingga 1258. Kemajuan Islam pada masa Daulah Abbasiyah
ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial,
politik, dan budaya. Apa saja perkembangan seni dan budaya di masa Daulah
Abbasiyah?
Faktor majunya seni dan budaya Daulah
Abbasiyah
Pada masa
Daulah Abbasiyah, perkembangan seni dan budaya terasa sangat signifikan, sesuai
perubahan kehidupan umat Islam dari kehidupan badawah (desa) yang sederhana ke
kehidupan kota yang makmur.
Seni dan budaya
tumbuh bersama dengan kehidupan agama Islam yang dipeluk oleh masyarakat
Abbasiyah. Dengan ditaklukkannya wilayah-wilayah yang dulu menjadi pusat
budaya, maka bertemulah bentuk budaya dari beraneka ragam etnis yang kemudian
melebur dan berkembang dalam suasana Islami. Sikap Islam dalam menerima
kebudayaan dari luar dapat berupa absorbsi (penyerapan), modifikasi
(penyesuaian), dan eliminasi (pemisahan). Pembauran tiga sikap tersebut dengan
nilai-nilai Islam melahirkan corak kebudayaan baru berupa karya seni dan budaya
yang bermutu tinggi. Salah satu penyebab kemajuan peradaban Islam dalam bidang
seni budaya dan sastra pada Daulah Abbasiyah adalah adanya asimilasi antara
bangsa Arab dan etnis-etnis lain yang lebih dulu maju dalam bidang seni. Selain
itu, pengaruh Persia juga menjadi faktor berkembangnya seni dan budaya pada
masa Daulah Abbasiyah.
Kehidupan seni dan budaya Daulah Abbasiyah
Seni budaya
yang berkembang pada masa Daulah Abbasiyah tidak lepas dari peran para
khalifah. Para khalifah Daulah Abbasiyah mengembangkan berbagai jenis kesenian
terutama kesusastraan pada khususnya, dan kebudayaan pada umumnya. Seni dan
budaya yang dikembangkan meliputi seni musik, seni sastra, arsitektur, dan
kaligrafi. Hasilnya, pada masa Daulah Abbasiyah, hidup budayawan dan sastrawan
masyhur seperti Abu Tammam, Al-Jahiz, dan Abu Al-Faraj. Ada pula Ibnu Mukaffa,
yang menerjemahkan sastra-sastra Persia, dan penyair Arab klasik paling
terkenal, Abu Nawas.
Sedangkan di
bidang seni kaligrafi, terdapat nama besar seperti Ibnu Muqlah bin Bawwab dan
Yaqut Al-Mustashim.
Seni sastra
Kemajuan bidang
seni sastra Dinasti Abbasiyah dapat dicapai karena para sastrawan diberi
kebebasan dan tidak terikat dengan usaha mempertahankan kemurnian Arab. Sastra
yang berkembang pada masa ini meliputi puisi, syair, prosa, dan novel.
Seni musik
Sejak zaman
jahiliyah, orang Arab pada umumnya berbakat di dunia musik dan seni suara.
Larangan
terhadap penggunaan musik dari para ahli fikih (hukum agama Islam) tidak begitu
berpengaruh di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad. Kebaikan hati para
khalifah terhadap para musisi pun tidak jarang ditunjukkan dengan memberi tunjangan
resmi. Pada masa ini, istana kekhalifahan di Baghdad melahirkan banyak
penyanyi, pencipta lagu, dan pemain alat musik.
Meski terdapat
dua pendapat bertolak belakang di kalangan ulama terkait musik, di mana ada
memperbolehkan dan ada yang mengharamkan, pada kenyataannya musik telah
menemani proses penyebaran agama Islam ke segenap penjuru wilayah kekhalifahan.
Salah satu ciri musik dan nyanyian warisan dari zaman Daulah Abbasiyah adalah
ringkas dalam melodi tetapi kuat dalam ritme. Beberapa alat musik yang berasal
dari masa Dinasti Abbasiyah seperti kecapi, hurdy gurdy, alboka, keyboard
gesek, timpani, dan masih banyak lainnya.
Arsitektur
Di bidang
arsitektur, Bani Abbasiyah mengembangkan ciri khas tersendiri, terutama dalam
hal dekorasi bangunan. Bangunan-bangunan pada masa Abbasiyah umumnya didirikan
menggunakan batu bata. Bukti kemajuan peradaban masa Daulah Abbasiyah di bidang
seni arsitektur dapat dilihat pada bangunan istana dan masjid.
Beberapa istana
yang dibangun pada masa Daulah Abbasiyah di antaranya, Istana Ukhaidir, Istana
Qashru al-Dzahab, Istana Jawsaq al-Khaqani, dan Istana Qasr al-'Ashiq.
Sedangkan keunikan arsitektur masjid dari masa Dinasti Abbasiyah dapat
disaksikan pada Masjid Agung Samarra, Masjid Al-Mansur, Masjid Ibnu Tulun, dan Masjid
Al-Khulafa.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa
Dinasti Abbasiyah
Pada masa Bani
Abbasiyah umat Islam mencapai puncak kejayaan di berbagai bidang. Ini terjadi
karena perhatian yang besar dari pemerintah terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
Khalifah Al-Ma’mun melakukan penerjemahan buku-buku asing dan mendirikan baitul
hikmah yang menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Kemudian muncul para
ilmuwan yang memiliki akidah kuat dan menguasai ilmu agama dan sains. Seperti
Al-Khawarizmi menemukan angka nol, Al- Farazi penemu astrolabe, Imam Bukhari
dan Imam Muslim yang menyusun hadis shahih yang menjadi panduan umat islam
hingga saat ini. Berdasarkan bukti sejarah tersebut, nilai keteladanan untuk
memajukan ilmu pengetahuan masa kini adalah pemerintah harus berperan aktif
dalam memberi penghargaan terhadap jasa para ilmuwan. Pada masa pemerintahan
Dinasti Abbasiyah, pemerintah membangun berbagai infrastruktur dan lembaga,
termasuk lembaga pendidikan. Semangat mengembangkan ilmu pengetahuan yang
ditunjukkan para khalifah pun terlihat jelas. Para khalifah yang memimpin turut
mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebijakan-kebijakannya. Alhasil,
penduduk berduyun-duyun mendatangi tempat-tempat menuntut ilmu, sementara para
ilmuwan memiliki kedudukan penting dan derajat yang tinggi. Baca juga: Sejarah
Singkat Khulafaur Rasyidin Kebijakan para khalifah dalam bidang ilmu
pengetahuan Beberapa langkah atau kebijakan yang dikeluarkan khalifah pada masa
pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah sebagai berikut. Menggalang penyusunan
buku Penyusunan buku pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dilakukan secara
besar-besaran. Hasil penelitian para ulama kemudian disusun dalam sebuah buku
sehingga dapat dengan mudah dipelajari oleh generasi penerus. Menggalang penerjemahan
buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa asing Khalifah Bani Abbasiyah mendukung
dan mendanai penerjemahan ilmu-ilmu pengetahuan dari bahasa asing ke Bahasa
Arab.
Peradaban Islam mengalami kemajuan di
bidang ilmu pengetahuan pada masa Bani Abbasiyah, antara lain karena:
Pendirian pusat ilmu pengetahuan: Didirikannya Bait
al-Hikmah sebagai pusat penerjemahan dan penelitian. Bait al-Hikmah berfungsi
sebagai perpustakaan, lembaga pendidikan, lembaga riset, observatorium, dan
biro penerjemahan.
Penerjemahan buku-buku asing: Terjadi penerjemahan
besar-besaran karya-karya ilmiah dari Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa
Arab.
Pembentukan
mazhab-mazhab ilmu pengetahuan: Terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan dan
keagamaan.
Perkembangan ilmu-ilmu keislaman: Dimulainya
sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir, Hadits, dan Fiqh.
Perkembangan ilmu-ilmu sosial dan sains: Ilmu-ilmu sosial dan
sains juga mengalami perkembangan.
Perkembangan ilmu matematika: Sidharta dari India
memperkenalkan sistem angka dari Hindu yang terdiri dari 1-9.
Perkembangan ilmu fisika: Tokoh-tokoh ilmu
fisika pada masa ini adalah al-Bakhi, al-Biruni, dan Naisiri Khusraw.
Perkembangan ilmu falak: Muhammad al-Fazzari
merupakan ahli falak Islam yang menerjemahkan kitab al-Sind Hind, berisi ilmu
falak dan matematika.
Perkembangan
toko-toko buku: Toko-toko buku berkembang dengan pesat dan menjadi pusat
lingkungan studi.
Materi Pertemuan 3
Kehidupan seni dan budaya Daulah
Abbasiyah
Seni budaya
yang berkembang pada masa Daulah Abbasiyah tidak lepas dari peran para
khalifah. Para khalifah Daulah Abbasiyah mengembangkan berbagai jenis kesenian
terutama kesusastraan pada khususnya, dan kebudayaan pada umumnya. Seni dan
budaya yang dikembangkan meliputi seni musik, seni sastra, arsitektur, dan
kaligrafi. Hasilnya, pada masa Daulah Abbasiyah, hidup budayawan dan sastrawan
masyhur seperti Abu Tammam, Al-Jahiz, dan Abu Al-Faraj. Ada pula Ibnu Mukaffa,
yang menerjemahkan sastra-sastra Persia, dan penyair Arab klasik paling
terkenal, Abu Nawas.
Sedangkan di
bidang seni kaligrafi, terdapat nama besar seperti Ibnu Muqlah bin Bawwab dan
Yaqut Al-Mustashim.
Seni sastra
Kemajuan bidang
seni sastra Dinasti Abbasiyah dapat dicapai karena para sastrawan diberi
kebebasan dan tidak terikat dengan usaha mempertahankan kemurnian Arab. Sastra
yang berkembang pada masa ini meliputi puisi, syair, prosa, dan novel.
Seni musik
Sejak zaman
jahiliyah, orang Arab pada umumnya berbakat di dunia musik dan seni suara.
Larangan
terhadap penggunaan musik dari para ahli fikih (hukum agama Islam) tidak begitu
berpengaruh di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad. Kebaikan hati para
khalifah terhadap para musisi pun tidak jarang ditunjukkan dengan memberi
tunjangan resmi. Pada masa ini, istana kekhalifahan di Baghdad melahirkan
banyak penyanyi, pencipta lagu, dan pemain alat musik.
Meski terdapat
dua pendapat bertolak belakang di kalangan ulama terkait musik, di mana ada
memperbolehkan dan ada yang mengharamkan, pada kenyataannya musik telah
menemani proses penyebaran agama Islam ke segenap penjuru wilayah kekhalifahan.
Salah satu ciri musik dan nyanyian warisan dari zaman Daulah Abbasiyah adalah
ringkas dalam melodi tetapi kuat dalam ritme. Beberapa alat musik yang berasal
dari masa Dinasti Abbasiyah seperti kecapi, hurdy gurdy, alboka, keyboard
gesek, timpani, dan masih banyak lainnya.
Arsitektur
Di bidang
arsitektur, Bani Abbasiyah mengembangkan ciri khas tersendiri, terutama dalam
hal dekorasi bangunan. Bangunan-bangunan pada masa Abbasiyah umumnya didirikan
menggunakan batu bata. Bukti kemajuan peradaban masa Daulah Abbasiyah di bidang
seni arsitektur dapat dilihat pada bangunan istana dan masjid.
Beberapa istana
yang dibangun pada masa Daulah Abbasiyah di antaranya, Istana Ukhaidir, Istana
Qashru al-Dzahab, Istana Jawsaq al-Khaqani, dan Istana Qasr al-'Ashiq.
Sedangkan keunikan arsitektur masjid dari masa Dinasti Abbasiyah dapat
disaksikan pada Masjid Agung Samarra, Masjid Al-Mansur, Masjid Ibnu Tulun, dan
Masjid Al-Khulafa.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa
Dinasti Abbasiyah
Pada masa Bani
Abbasiyah umat Islam mencapai puncak kejayaan di berbagai bidang. Ini terjadi
karena perhatian yang besar dari pemerintah terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
Khalifah Al-Ma’mun melakukan penerjemahan buku-buku asing dan mendirikan baitul
hikmah yang menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Kemudian muncul para
ilmuwan yang memiliki akidah kuat dan menguasai ilmu agama dan sains. Seperti
Al-Khawarizmi menemukan angka nol, Al- Farazi penemu astrolabe, Imam Bukhari
dan Imam Muslim yang menyusun hadis shahih yang menjadi panduan umat islam
hingga saat ini. Berdasarkan bukti sejarah tersebut, nilai keteladanan untuk
memajukan ilmu pengetahuan masa kini adalah pemerintah harus berperan aktif
dalam memberi penghargaan terhadap jasa para ilmuwan. Pada masa pemerintahan
Dinasti Abbasiyah, pemerintah membangun berbagai infrastruktur dan lembaga,
termasuk lembaga pendidikan. Semangat mengembangkan ilmu pengetahuan yang
ditunjukkan para khalifah pun terlihat jelas. Para khalifah yang memimpin turut
mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebijakan-kebijakannya. Alhasil,
penduduk berduyun-duyun mendatangi tempat-tempat menuntut ilmu, sementara para
ilmuwan memiliki kedudukan penting dan derajat yang tinggi. Baca juga: Sejarah
Singkat Khulafaur Rasyidin Kebijakan para khalifah dalam bidang ilmu
pengetahuan Beberapa langkah atau kebijakan yang dikeluarkan khalifah pada masa
pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah sebagai berikut. Menggalang penyusunan
buku Penyusunan buku pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dilakukan secara
besar-besaran. Hasil penelitian para ulama kemudian disusun dalam sebuah buku
sehingga dapat dengan mudah dipelajari oleh generasi penerus. Menggalang
penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa asing Khalifah Bani
Abbasiyah mendukung dan mendanai penerjemahan ilmu-ilmu pengetahuan dari bahasa
asing ke Bahasa Arab.
Peradaban Islam mengalami kemajuan di
bidang ilmu pengetahuan pada masa Bani Abbasiyah, antara lain karena:
Pendirian pusat ilmu pengetahuan: Didirikannya Bait
al-Hikmah sebagai pusat penerjemahan dan penelitian. Bait al-Hikmah berfungsi
sebagai perpustakaan, lembaga pendidikan, lembaga riset, observatorium, dan
biro penerjemahan.
Penerjemahan buku-buku asing: Terjadi penerjemahan
besar-besaran karya-karya ilmiah dari Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa
Arab.
Pembentukan
mazhab-mazhab ilmu pengetahuan: Terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan dan
keagamaan.
Perkembangan ilmu-ilmu keislaman: Dimulainya
sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir, Hadits, dan Fiqh.
Perkembangan ilmu-ilmu sosial dan sains: Ilmu-ilmu sosial dan
sains juga mengalami perkembangan.
Perkembangan ilmu matematika: Sidharta dari India
memperkenalkan sistem angka dari Hindu yang terdiri dari 1-9.
Perkembangan ilmu fisika: Tokoh-tokoh ilmu
fisika pada masa ini adalah al-Bakhi, al-Biruni, dan Naisiri Khusraw.
Perkembangan ilmu falak: Muhammad al-Fazzari
merupakan ahli falak Islam yang menerjemahkan kitab al-Sind Hind, berisi ilmu
falak dan matematika.
Perkembangan
toko-toko buku: Toko-toko buku berkembang dengan pesat dan menjadi pusat
lingkungan studi.
EVALUASI
1.
Siswa dan guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.
2.
Refleksi pencapaian siswa/formatif asesmen, dan refleksi guru untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan
perbaikan.
3.
Menginformasikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada
pertemuan berikutnya.
4.
Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan
motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.
KESIMPULAN
Bagaimana anak anak, pada materi kali ini
apakah kalian sudah memahami makna dan mampu memahami tentang Meneladani Produktivitas Dalam Berkarya dan Semangat Literasi Masa Keemasan Islam Era Daulah
Abbasiyah (750M - 1258M
Baiklah... Berikut kesimpulan materinya :
Generasi Pecinta Al-Qur’an Yang Toleran maka harus mampu berakhlaq dan beraqidah
baik dan benar sesuai ajaran isla . Karena keselamatan hidup di masa yang akan
datang. Aturannya adalah arah jalan yang lurus.
Tetap semangat dalam belajar tanpa batas karena islam
mengajarakan kepada kita semua BELAJARLAH MULAI DARI BUAIAN HINGGA LIANG LAHAT.
BUKU REFERENSI :
Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
terbitan Kemdikbud Kurikulum Merdeka.
Buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
Tiga serangkai Kurikulum merdeka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar